Jun 25, 2011 - Pertama    Comments Off

Hereditas dan Lingkungan

A.      Pengertian

Dalam setiap manusia pasti memiliki perbedaan yang tidak mungkin dimiliki manusia lainnya. Dan hal itu ternyata bergantung terhadap hereditas yang ada dalam dirinya sendiri. Karena dalam setiap hereditas pasti terdapat ciri-ciri yang dibawanya dari orang tua mereka. Perbedaan inilah yang membedakan antara manusia yang lainnya dengan manusia yang lainnya.

Hereditas sendiri dapat diartikan sebagai pewarisan atau pemindahan biologis karakteristik individu dari pihak orang tuanya dan hal ini melalui proses genetis[1]. Hereditas yang terjadi pada manusia adalah adanya warisan specific genes yang berasal dari orang tua. Genes terhimpun atas beberapa kromosom (colored bodies) yang berasal dari ayah dan ibu mereka. Dari dua anggota yaitu ayah dan ibu terdapat kromosom yang didalamnya ada sejumlah genes yang membawa sifat tertentu dan kemudian menyatu membentuk senyawa yang memiliki sifat-sifat tertentu pula.

Lalu mulailah terjadi pembuahan didalam indung telur yang telah bertemu dengan sperma. Dalam perkembangannya terpisahlah sel yang ada dalam indung telur mulai dengan dua-dua. Pemisahan ini terus terjadi sampai membentuk organ-organ yang dibutuhkan untuk menjadi manusia seutuhnya. Pemisahan ini dalam ilmu biologi disebut dengan mitosis.

Semua itu karena adanya proses individuasi dan diferensiasi yang sangat identik dengan hereditas. Diferensiasi berupa pembetukan organ yang secara fisik terdapat pada diri manusia sebenarnya. Dan pembentukan diferensiasinya sangat tergantung kepada sifat dan interkasi lingkungan sekuler yang sering disebut dengan differential gradients (kekuatan-kekuatan pengarah organisme)[2]. Setelah itu mulailah pembentukan fungsi benih yang nantinya akan membedakan antara laki-laki dan perempuan proses ini disebut dengan meiosis. Dalam prosesnya aka nada pembentukan sperma dan indung telur dalam tubuh calon manusia yang akan lahir di dunia.

Oleh karenanya jika manusia yang berlainan jenis ini melakukan perkawinan maka akan terjadi proses genetis seperti penjelasan diatas. Proses terjadi karena adanya pertemuan antara kromosom-kromoson dari dua jenis yang berbeda. Kromosom yang bertemu ada 24 kromosom dan bercampurlah kromosom-kromosom itu. Akibat dari bertemunya kromosom itu maka akan terbentuk sifat genes yang dibawa dari dua manusia berlainan jenis dan terbentuklah sifat genes yang baru terhadap individu baru[3].

Lingkungan banyak diartikan secara sempit karena pengetahuan terhadap lingkungan sangatlah minim. Mereka menganggap bahwa lingkungan hanya ada di sekitar mereka saja. Tapi sebenarnya lingkungan itu adalah mencakup segala yang ada dalam kehidupan manusia secara material dan stimuli baik yang di dalam dan di luar individu. Baik yang berupa fisiologis, psikologis maupun sosio-cultural. Secara fisiologis lingkungan menyangkut jasmaniah yang ada dalam tubuh seperti gizi, vitamin dan lainnya. Lalu yang secara psikologis menyangkut berbagai stimulasi yang sudah dibawa sejak mereka di dalam kandungan bahkan saat mereka sudah di luar seperti kebutuhan ataupun yang berhubungan dengan sifat-sifatnya. Sedangkan yang sosio-kultural adalah berupa hubungan dengan lingkungan sekitar berupa interaksi maupun yang lainnya[4].

Dengan semakin luasnya pengertian dari lingkungan bukannya mudah untuk memahami tapi malah tambah rumit bagi masyarakat yang sudah terlanjur berpikir secara sempit. Karena terjadi kesamaan antara hereditas dan lingkungan meski ada perbedaan antara keduanya. Ada juga yang menganggap bahwa hereditas sama dengan persamaan parental disebabkan adanya pewarisan dari orang tua terhadap anak mereka. Tapi tidak semuanya bergantung terhadap pewarisan sifat tapi bisa juga adanya modifikasi sifat yang ada dalam lingkungannya. Sehingga mengakibatkan perubahan terhadap sifat yang ada dalam diri manusia itu sendiri.

Ilmuwan Abbot Gregor Mendel (1857), Austria seorang biarawan. Dia melakukan penelitian terhadap kacang-kacangan yang warnanya berbeda antara yang satu dengan lainnya. Kemudian dia mencoba mengawinkan kacang yang berwarna merah dengan yang warna putih. Hasilnya diketahui bahwa adanya perubahan sifat pada bunga yang dihasilkan oleh perkawinan silang itu. Perbedaan ini disebabkan adanya element (gen) yang ada dalam kedua kacang berbeda. Ketika keduanya dikawinkan terjadilah pertukaran gen yang sama pada kedua kacang itu. Setelah melakukan pertukaran maka proses untuk perubahan pun dilakukan. Dimana yang dominan akan menang, semboyan ini seperti sudah mendarah daging bahkan dalam kehidupan politik bukan ilmu pengetahuan saja.

Ternyata dominanlah yang menentukan sifat apa yang akan dibawa oleh individu baru yang akan keluar. Jadi hereditas sangat berpengaruh terhadap kehidupan setiap individu baik manusia maupun makhluk hidup lainnya. Sehingga dia mengeluarkan hukum Mendel yang kebanyakan diterapkan dalam ilmu biologi yang membahas gen. Setelah beberapa tahun tidak ada yang menggunakan hukum Mendel maka ada seorang ilmuwan yang coba menguji kebenaran penelitian Mendel. Ilmuwan itu adalah Prof. Thomas Hunt Morgan yang telah mencoba memberikan kebenaran hasil dari penelitian Mendel. Penelitiannya melalui lalat yang telah mengalami perkembangan begitu lama meski bukan merupakan mamalia. Ternyata hasilnya sama dengan hasil penelitiannya Mendel yang menggunakan anak manusia dengan anak simpanse[5].

B.       Pengaruh Hereditas dan Lingkungan

Untuk yang pertama adalah bagaimana pengaruh hereditas terhadap pertumbuhan manusia. Ada banyak hal yang dapat disimpulkan dari penjelasan di atas seperti sifat pribadi manusia pada umumnya bergantung pada pengaruh kombinasi genes. Dalam sel-sel ayah dan ibu mereka ada bermacam-macam sel dikarenakan adanya pembiakan sel lalu sel-sel itu bertemu dan berinteraksi menghasilkan organisme baru yang memiliki sifat yang berbeda antara ibu dan ayah mereka.

Meski kata orang bahwa kakak beradik itu pasti punya sifat yang sama tapi pada kenyataanya pasti memiliki perbedaan karena tingkat hereditas yang berbeda. Dalam saudara kembar ada pembagian yaitu Fraternal twins (kembar tumbuh dari sel telur berbeda) dan Indentical twins (kembar dari satu sel telur)[6].

Tapi jika penentuan kembar tidak melihat cara lahirnya maka akan lebih mendekati indentical twins. Pada umumnya kembar itu terdapat dalam satu sel telur saja makanya didalamnya terdapat genes yang sama pula. Dengan demikian kembar ini lebih disebut sebagai duplikat yang sempurna tapi meski sempurna hereditas dalam tubuhnya tetap mengalami perbedaan.

Untuk menggambarkan penjelasan mengenai mekanisme hereditas adalah adanya interaksi factor yang dalam pasangan genes. Hal ini dapat diterangkan dalam banyaknya kasus tentang gen seperti albino, kebutaan, kebotakan,dan yang lainnya. Biasanya itu terjadi karena adanya factor hereditas pada orang tua mereka. Jika orang tua keduanya membawa genes untuk albino maka keturunanya akan mengalami albino (kulit bule). Bila normal maka yang dibawa adalah pigmen asli atau normal (CC). Jika hanya salah satu yang membawa maka sebagian kulitnya akan mengalami bule atau albino (Cc) individu ini disebut dengan heterozygous. Individu pigmen normal dan albino disebut dengan individu yang homozygous[7].

Individu laki-laki dan perempuan ditentukan sepasang kromosom yang disebut the sex chromosomes. Dan dalam setiap kromosom ada pembagian yaitu kromosom X dan Y ini dimiliki oleh ayah sedangkan pihak ibu hanya memiliki kromosom X saja. Untuk memperoleh keturunan perempuan maka kromosom X dari ayah dan X dari ibu bertemu. Jika ingin memiliki laki-laki maka kromosom yang bertemu dengan kromosom ibu adalah kromosom ayah yang Y. oleh karenanya penentuan ada tidaknya anak laki-laki yang dimiliki sebuah keluarga bergantung dari ada tidaknya pengaruh kromosom Y dari ayah.

Dalam perkembangan selanjutnya setiap individu pasti memiliki genes tersendiri. Dan genes itu berguna untuk menentukan bagaimana perkembangan individu selanjutnya. Jika kromosom X yang dimiliki lebih dominan maka akan tumbuh sifat wanitanya yang kuat. Sebaliknya jika yang Y maka kelelakiannya akan tumbuh dengan pesat. Makanya ada istilah waria ( wanita pria ) dan prinita ( pria wanita ) dikarenakan adanya hal itu. Semua hal yang berhubungan dengan fisik seorang individu pasti tidak lepas dari pengaruh hereditas.

Kemudian pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan yang sekarang banyak diperbincangkan.  Karena tidak semua hal yang ada dalam setiap individu dipengaruhi oleh hereditas semata. Melainkan ada hal lainnya yang mempengaruhinya yaitu lingkungan, lingkungan alam yang membentuk keajaiban dalam proses hereditas. Oleh karenanya lingkungan punya andil besar dalam pembentukan sel-sel germ (pembenihan) serta proses selanjutnya nanti.

Setiap individu dalam perkembangannya mempunyai tingkah laku yang telah dibawanya sejak lahir. Tingkah laku itu adalah insting (aktivitas menuruti kodrat/nafsu tidak ada belajar), habits (kebiasaan yang berulang-ulang/hasil latihan), native behavior (pembawaan mengikuti hereditas), dan acquired behavior (didapat dari hasil belajar). Dan kesemuanya itu sangat dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan yang ada dalam kehidupan setiap individu[8].

Demikian hereditas dan lingkungan adalah suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan lainnya. Mereka saling melengkapi dan saling mengisi celah yang ada dalam kehidupan manusia pada umumnya. Oleh karenanya pertumbuhan individu tidak lepas dari pengaruh hereditas dan lingkungan. Yang pengaruhnya tidak terlihat secara nyata tapi hanya dapat dirasakan dalam diri mereka masing-masing.

Pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap perkembangan individual. Dalam setiap perkembangan individu hereditas dan lingkungan tidak pernah lepas dalam kehidupannya. Interaksi antara genes adalah salah satunya, di dalam interaksi hereditas sangat mempengaruhi karena genes antara individu yang satu dengan lainnya sangat berbeda. Sehingga pewarisan suatu sifat tertentu kadang ditentukan oleh genes yang mereka miliki. Sifat yang diwariskan melalui hereditas adalah seperti tumbuhnya kumis, jenggot, dan lainnya yang berhubungan dengan fisik individu itu sendiri. Sedangkan oleh lingkungan pengaruhnya adalah terletak pada sifat dia menghadapi kehidupan seperti hubungannya dengan masyarakat sekitar atau pengaruh alam ketika dalam masa pembenihan.

Hereditas dan lingkungan adalah dua hal yang saling berkaitan serta sangat penting bagi kehidupan setiap individu. Dalam penelitian jika seorang mahasiswa ingin meneliti seseorang jangan hanya melihat factor hereditasnya tapi juga factor lingkungannya. Dengan melihat keduanya maka akan dapat ditemukan sebuah jawaban sebuah pertanyaan tentang individu yang sedang diteliti. Sifat-sifat yang diturunkan melalui hereditas akan sangat sulit dirubah karena sifat itu sudah mendarah daging dalam tubuhnya. Beda lagi dengan lingkungan yang mudah untuk diubah karena merupakan hasil belajar dari pengalaman yang dia alami sendiri. Oleh karenanya individu selalu berubah-ubah sesuai dengan lingkungannya.

Perkembangan yang dipengaruhi meliputi pewarisan sifat genius, pertumbuhan mental dan pertumbuhan anak kembar. Pewarisan genius menurut Francis Galton adalah merupakan pewarisan dari hereditas. Hal ini dia peroleh dari hasil penelitian yang dilakukannya terhadap beberapa keluarga. Para psikolog pun akhirnya tidak setuju, menurut mereka Galton lalai dalam melakukan penelitian. Psikolog itu adalah A. de Candolle, dia berpendapat bahwa yang mempengaruhi adalah factor lingkungan bukan hereditas. Hal ini didukung oleh Henry H. Goddard (1912) yang telah membuktikan pendapat dari Candolle.

Pertumbuhan mental adalah hal yang perlu diteliti karena sangat mempengaruhi pada individu. Seorang ilmuwan yang sudah melakukan penelitian yaitu Winthrop N. Kellogg. Dia melakukan penelitian terhadap anak yang berusia 10 bulan dan anak simpanse yang berumur 7,5 bulan. Setelah melakukan penelitian yang cukup lama, Kellog telah menemukan jawabannya. Perkembangan mental simpanse dengan manusia ternyata lebih cepat pada masa itu. Lalu dalam perkembangan selanjutnya simpanse mengalami penurunan berganti yang anak manusia lebih cepat berkembang. Hal ini membuktikan bahwa adanya pengaruh hereditas terhadap perkembangan individu dalam setiap kehidupannya.

Kemudian penelitian yang dilakukan terhadap anak kembar. Hal ini telah dilakukan oleh seorang ilmuwan yang bernama Edward L. Thorndike. Dia melakukan penelitian terhadap anak kembar sebanyak 50 pasang anak. Setelah diadakannya penelitian itu ternyata dapat disimpulkan bahwa nilai yang didapat hampir sama. Tes juga diberikan kepada anak yang tidak kembar juga, dan ternyata hasilnya lebih baik yang ada dalam kembar. Hal ini membuktikan bahwa hereditas sangatlah mempengaruhi pertumbuhan kemampuan si anak dalam pembelajarannya. Penelitian ini juga dilakukan oleh Wingfield Holzinger dan Mc. Nemar hasilnya pun sama dengan yang didapat oleh Edward[9].

C.      Pandangan tentang Hereditas dan Lingkungan

Dalam penjelasan diatas telah dikatakan bahwa banyak sekali ilmuwan yang telah melakukan penelitian terhadap hereditas dan lingkungan. Mereka telah memberikan pendapat dan argument mereka sendiri . pendapat yang diberikan bukanlah hal yang dikarang maupun hanya kata-kata belaka tapi perkataan mereka adalah hasil dari penelitian yang telah dilakukan selama mungkin dan seakurat mungkin. Sehingga didapatkan hasil yang memuaskan bagi mereka sendiri juga bagi masyarakat yang telah mempercayainya. Menurut pendapat ilmuwan tentang pengertian diatas bahwa yang paling berpengaruh dalam perkembangan manusia bukan lingkungan tapi pembawaan (Aliran Nativisme oleh Schoppenhour filosof dari Jerman) sedangkan yang lainnya mengatakan bahwa yang paling berpengaruh adalah lingkungan bukanlah bawaan (Aliran Empirisme oleh John Lock seorang filosof dan pskilog dari Inggris). Tapi sebenarnya keduanya adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan karena saling melengkapi antara yang satu dengan lainnya[10].

Dalam penjelasannya yang sama dengan keterangan diatas yaitu adanya gabungan antara dua aliran itu. Yaitu Aliran Konvergensi adalah aliran yang menganggap bahwa lingkungan dan hereditas adalah sesuatu yang saling melengkapi. Hereditas adalah sesuatu yang berhubungan dengan keturunan yang tidak lepas dari pengaruh lingkungan alam baik yang disekitar maupun lainnya. Sifat yang dibawa sejak lahir sebagian besar tidak bisa diubah beda dengan lingkungan yang  banyak diubah.

Dalam perkembangannya hereditas dan lingkungan mempunyai sumbangan dalam kehidupan yaitu dalam bidang pertumbuhan dan perkembangbiakan, pertumbuhan dan perkembangan mental, kesehatan mental dan emosi serta kepribadian, dan sikap-sikap, keyakinan, serta nilai-nilai.

Dalam hereditas dan lingkungan banyak sekali hukum yang berhubungan dengan masalah ini. Seperti hukum reproduksi (oleh August Weismann yang mengatakan bahwa setiap individu sudah memiliki perbedaan sifat yang telah diwariskan kepadanya), hukum konformitet (bahwa makhluk hidup bergantung pada apa yang telah mereka miliki sejak dilahirkan. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan hidup yang ada dalam sekitar mereka. Tapi sifatnya tidak akan berubah karena adanya sifat dasar yang telah mereka bawa sejak mereka lahir), hukum variasi (bahwa individu akan memiliki sifat yang bervariasi dengan orang lain karena factor hereditas dan lingkungannya), dan hukum regresi fasial yang bertentangan dengan hukum konformit[11].

Hubungan antara individu dengan lingkunganya sangatlah erat sekali karena tanpanya lingkungan seorang individu tidak akan bisa bertahan hidup. Lingkungan itu bisa berupa lingkungan fisik juga bisa berupa lingkungan social. Lingkungan fisik berupa alam sekitarnya yang sering kita lihat setiap hari, sedangkan lingkungan social adalah hubungan kita dengan masyarakat sekitar. Dalam lingkungan social pun dibagi menjadi dua yaitu primer dan sekunder. Hubungan yang primer adalah hubungan dengan masyarakat sangatlah erat sekali bahkan kita dapat memahami seperti apa masyarakat itu, bagaimana kehidupannya. Sedangkan sekunder adalah hubungan yang sekedar hubungan karena kurang eratnya hubungan dengan masyarakat sekitar kita.

Dengan kurang eratnya dengan masyarakat maka kita tidak akan bisa menerima apa yang ada dalam masyarakat. Bahkan kita tidak akan dapat memberikan sesuatu yang baru karean takut menyakiti hati mereka. Keakraban dalam masyarakat perlu ditanamkan kepada anak sejak mereka kecil agar hubungan masyarakat tidak renggang antara individu yang satu dengan lainnya.

BAB III

PENUTUP

A.      Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat kelompok kami berikan adalah bahwa hereditas dan lingkungan mempunyai hubungan yang erat. Keduanya saling melengkapi tidak ada yang bisa memisahkan. Jika ada hereditas maka harus ada lingkungan baik fisik maupun social. Hereditas sangat ditentukan oleh factor keturunan atau pewarisan yang ada dalam genes mereka. Sedangkan, lingkungan hanya akan mempengaruhi pribadi mereka saja yaitu yang luar saja. Dikarenakan di lingkungan hanya memberikan apa yang dapat mereka lakukan untuk melalui kehidupan agar dapat bertahan hidup.

Pengaruhnya terhadap individu juga sangat besar sekali. Terutama hereditas yang kebanyakan ada individu yang mengalami kecacatan ketika mereka lahir. Kecacatan ini disebabkan ketika ibu mereka hamil kurangnya asupan gizi yang masuk juga karena tingkat emosi yang tinggi. Dengan adanya tingkat emosi yang tinggi maka asupan makanan dan nutrisi akan sedikit terhambat. Lingkungan hanya akan memberikan pengaruh terhadap individu pada saat mereka sudah siap untuk menerimanya. Jika belum maka hasilpun akan sama dengan hereditas akan adanya kecacatan dalam sifat pribadinya.

Oleh karenanya ilmuwan kemudian memberikan pendapat mereka agar pembaca mau mengikuti pendapat mereka. Pendapat yang diungkapkan itu adalah hasil penelitian yang telah mengalami banyak jalan berliku. Juga telah mendapat persetujuan dari semua orang yang telah mempercayainya. Hukum yang mengatur tentang hereditas dan lingkungan pun banyak ditelorkan. Bahkan banyak yang menjadi acuan dalam ilmu biologi terutama dalam bidang masalah gen. karena hukum itu sangatlah akurat dan tepat untuk digunakan.

B.       Penutup

Alhamdulillah kami ucapkan karena dengan karunia-Nya, makalah yang dibuat dapat selesai sesuai harapan. Materi yang penyusun dapat berasal dari buku-buku yang relevan dengan masalah ini. Bahkan yang mempunyai sedikit hubungan dengan masalah inipun akan penyusun gunakan. Karenanya referensi yang digunakan penyusun masih dalam tahap yang kecil belum menuju sempurna. Ucapan terima kasih juga penyusun berikan kepada pembimbing mata kuliah ini karena tanpanya kami tidak akan dapat menyelesaikan makalah ini.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan, apabila ada kata yang salah atau ada salah dalam penulisannya kami mohon maaf  yang sebesar-besarnya. Tanpa adanya rasa maaf dari para pembaca makalah ini tidak akan menjadi sebuah pedoman atau referensi. Ktirik dan saran juga masih kami tunggu agar makalah ini bisa menjadi makalah yang baik. Amin

DAFTAR PUSTAKA 

Wasty Soemanto, 1990, Psikologi pendidikan, Rineka Cipta : Jakarta

Tutik Hartati, 2003, Biologi 2 SMP, Erlangga : Surabaya

Soemanto, 2007, Sosiologi 2 SMA, Erlangga : Surabaya

Mustaqim,  Abdul Wahib, 2003, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta

Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, PT. Andi : Yogyakarta


[1] Wasty Soemanto, 1990, Psikologi pendidikan, Rineka Cipta : Jakarta. Hal. 78

[2] Ibid. hal. 79

[3] Tutik Hartati, 2003, Biologi 2 SMP, Erlangga : Surabaya. Hal. 108

[4] Soemanto, 2007, Sosiologi 2 SMA, Erlangga : Surabaya. Hal. 80

[5] Op.cit. Wasty. Hal. 82

[6] Op.cit. Wasty. Hal. 86

[7] Op.cit. Tutik. Hal. 145

[8] Op.cit. Wasty. Hal.88

[9] Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, PT. Andi : Yogyakarta. Hal. 78

[10] Mustaqim,  Abdul Wahib, 2003, Psikologi Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta hal. 10

[11] Ibid. Mustaqim”. Hal. 18-21

Comments are closed.